Permintaan Ruang Kantor di Jakarta Tumbuh Tipis

JAKARTA-Rendahnya tambahan pasokan perkantoran di area CBD Jakarta sepanjang 2016 silam berdampak pada minimnya permintaan.

Menurut catatan Colliers International Indonesia okupansi ruang perkantoran mengalami pertumbuhan moderat dengan penyerapan yang lebih kecil dibanding 2015.

Pertumbuhan okupansi hanya terjadi pada gedung perkantoran kelas premium yang menjadi 91 persen atau lebih tinggi dari periode sebelumnya 88,5 persen secara tahunan.

Sedangkan untuk gedung perkantoran kelas A, B, dan C mengalami penurunan rata-rata 3,43 persen.

Data tersebut membuat penurunan rata-rata okupansi seluruh gedung perkantoran di area CBD Jakarta turun 4,6 persen dari 89,4 persen pada kuartal-IV 2015 menjadi 84,8 persen pada kuartal-IV 2016.

Kendati secra tahunan menurun, namun pertumbuhan positif justru terjadi secara kuartalan.

Semua kelas gedung perkantoran baik premium hingga kelas A, B, dan C untuk pertama kalinya mengalami kenaikan okupansi dengan angka rata-rata 2,15 persen.

“Selain bergerak dalam kondisi melambat, kebanyakan transaksi terjadi pada ruang perkantoran dengan luasan kecil di bawah 500 meter persegi pada 2016,” kata Senior Associater Director Colliers International Indonesia Ferry Salanto, di Jakarta, Kamis (5/1/2017).

Sementara itu, untuk transaksi ruang perkantoran dengan luasan lebih besar antara 1.000 hingga 3.000 meter persegi kebanyakan dilakukan oleh perusahaan dari sektor perbankan, asuransi, farmasi, outsourcing, logistik, dan teknologi informasi sebagai generator utama permintaan perkantoran di CBD.

Pada tahun ini, okupansi perkantoran di CBD Jakarta diprediksi akan kembali mengalami penurunan lantaran faktor penyelesaian gedung baru. Namun, penurunan tersebut masih dalam batas aman dan belum mengkhawatirkan.

“Penjadwalan ulang penyelesaian beberapa gedung perkantoran akan menciptakan dampak besar pada perkiraan tingkat okupansi pada 2017. Okupansi diperkirakan menurun meskipun tetap bertahan 80 persen,” papar Ferry.

Sumber: kompas.com